Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2015

Buku Kekasihku


Oleh : Hudi Majnun 
Hari itu, ketika malam sudah berada pada akhir perjalanan, aku harus terbangun karena sebuah mimpi buruk. Mimpi itu terasa begitu nyata, hingga membuatku terbangun dalam keadaan menangis. Kurasakan air mata membasahi pipi. Dalam mimpi itu aku menghadiri acara pemakaman orang yang paling aku kasihi, ya dia kekasihku. Ia meninggal, dan aku pembunuhnya, tapi tidak ada yang tahu bahwa aku yang telah membunuhnya. Aku membawa karangan bunga dan kartu ucapan duka cita. Kartu ucapan itu memang sedikit berbeda dengan orang kebanyakan, dan itu cukup menarik perhatian orang. Ketika aku meletakkan karangan bunga itu, orang-orang melihatku dengan aneh. Seperti mata yang memperhatikan sebuah kebodohan. Kartu itu aku tuliskan, “Akulah yang paling berduka atas kepergianmu. Aku menyesalinya dan semoga kamu masih mencintaiku”.
Atas kejadian dalam mimpi itu, aku mengalami ketakutan yang berlebih. Aku takut kehilangan orang yang aku kasihi. Oleh sebab itu, sesering mungkin aku mengajaknya bertemu, untuk sekedar ngobrol, jalan bareng, berlibur, ke toko buku, dan sebagainya. Setidaknya, aku dapat melupakan ketakutanku itu, atau paling tidak, kalau ia memang benar akan pergi, aku masih bisa menikmati kebersamaan diakhir hidupnya. Aku melakukan banyak cara agar bisa melupakan mimpi itu, termasuk mengabadikan kisahku dengan kekasihku melalui sebuah tulisan. Akan kususun menjadi sebuah kisah yang nantinya bisa dibukukan. Aku selalu menulis kejadian yang menarik dan aneh dengan kekasihku, termasuk kejadian aneh yang kadang aku alami sendiri.
Semakin lama aku menulis, semakin aku lupa dengan mimpi buruk itu. Tapi kemudian, kisahku dengan kekasihku sudah tak ada yang menarik lagi untuk ditulis. Kau tau, saat itu aku pun berhenti menulis. Aku kehabisan inspirasi. Sudah cukup banyak kejadian yang aku tulis saat bersama kekasihku. Ini salah satunya :
Suatu malam, ketika sedang minum kopi di cafe, aku harus sedikit berdebat panas dengan kekasihku. Ia tak setuju dengan pendapatku mengenai suatu kebaikan yang harus dilakukan orang.
Aku berkata “kita tidak boleh membalas orang yang jahat dengan jahat pula”
“Jadi, aku harus diam walau ada orang yang menyakitiku?” sahut kekasihku dengan mengertukan dahinya.
“Tidak seperti itu. Kejahatan itu seperti api, tidak mungkin kita memadamkan api dengan api kan. Pastinya harus dengan air”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan kepada orang yang pernah sangat sombong padaku dan ia juga sangat meremehkanku?”.
“Kalau itu hanya pernah, tapi tidak dia ulangi sekarang, sebaiknya kau menyambutnya dengan baik”
“Tidak semudah itu. Aku terlanjur sakit hati dengan sikapnya. Hanya ketika ada butuhnya saja ia mendekatiku”
“Bagus dong kalau dia ingin akrab denganmu. Berarti dia sudah berubah, tapi jangan kau tanggapi niat baiknya dengan buruk. Ia bisa saja berubah lagi menjadi seperti yang sebelumnya”
Alahh, ia seperti itu hanya karena butuh bantuanku” nadanya meninggi.
“Jangan terlalu berpikir buruk. Apa salahnya berbuat baik kepada orang, sekalipun ia tidak baik dengan kita”
“Sudahlah, aku malas denganmu, kau tak pernah membelaku”
Perdebatan itu berhenti. Kekasihku terlihat sangat marah, aku bisa membaca raut mukanya yang cemberut. Aku pun diam, karena tak ingin ia tambah marah. Jadi kami saling diam sampai kopi di gelas aku habiskan dan kita pulang kerumah masing-masing. Sampai aku mengantarnya di depan rumahnya, ia tak bicara apapun, hanya ucapan “Terimakasih telah mengantarku” katanya, itupun tanpa melihatku.
*
Keesokan harinya kami masih tetap saling diam. Setelah tiga hari ia baru sembuh dari penyakit diamnya, aku turut bahagia. Lima hari setelah perdebatan itu aku mengalami hal aneh. Malam itu, tepatnya malam jum’at, aku mendapati tubuhku basah kuyup dan berbau amis. Aku terbaring di tengah kerumunan orang, di antara orang-orang itu aku melihat orang bersurban putih sedang komat-kamit dengan segelas air tangan kirinya dan seutas tasbih di tangan kanannya. Kulihat tasbih itu digerak-gerakkan dengan jempol. Kemudian ia meminum air itu dan menyemburkannya ke mukaku ”bhuuuhh...”. Karena bau air yang kurang sedap, aku balas menyemburnya dengan air yang jatuh ke mulutku, sambil berteriak “wooyy....”. Tiba-tiba orang-orang yang lain memegangiku dengan kencang, kemudian orang bersurban itu memegang keningku, tangannya sangat dingin. Aku diam saja, takut orang-orang itu memegangku dengan kencang lagi. Setelah aku tenang, aku di dudukkan.
“ada apa ini ?” kataku, kemudian orang bersurban itu menjawab.
“kau sudah sadar nak?” sahut orang bersurban itu.
“memangnya aku kenapa pak ?”
“barusan kamu kesurupan”
“aku tidak tahu itu. Kenapa bapak menyemburku barusan ?”
“itu biar setannya keluar dari tubuhmu. Tadi setannya melawan, dia menyemburku juga. Tapi untungnya dia keluar setelah aku membacakan mantra pamungkas”.
“tapi aku ingat tadi, ketika bapak menyemburku”
Bapak itu terdiam, beberapa saat kemudian ia baru menjawab lagi, “berarti setannya tinggal sedikit tadi”.
“iya mungkin”
Setelah itu aku disuruh membersihkan diri. Mandi dan ganti baju. Setelah aku rapi dan wangi, aku ke ruang tamu. Ternyata sudah sepi, hanya tinggal ibu dan ayahku.
“kemana bapak yang pakai surban itu bu ?” tanyaku.
“dia sudah pergi, kamu terlalu lama mandinya” jawab ibuku.
Aku bertanya kepada orang tuaku tentang apa yang telah terjadi. Katanya, aku mengalami kesurupan. Saat sedang duduk di depan komputer, tiba-tiba aku mengerang-erang dan melompat-lompat. Sampai akhirnya aku terjatuh di kolam ikan yang ada di depan rumah. Kemudian mereka mengangkatku ke ruang tamu dan memanggilkan seorang ustad.
Aku hanya ingat saat duduk di depan komputer. Waktu aku sedang menulis sebuah cerita tentang kekasihku. Dan waktu itu, aku kehabisan kata untuk menulis. Aku membayangkan kekasihku sedang marah, dan aku juga terbawa emosi membayangkannya. Aku coba mengosongkan pikiran, agar tidak terbawa emosi. Tiba-tiba aku merasa dingin dan mengantuk dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Sadar-sadar aku sudah seperti itu. Mungkin benar aku kesurupan, atau mungkin hanya sekedar mengigau yang berlebihan, entahlah. Yang jelas, saat itu aku sedang kehabisan inspirasi untuk menulis, tidak ada kisah yang menarik lagi dengan kekasihku. Mungkin saja, karena pikiranku saat itu kosong, hingga setan bisa masuk dengan sesuka hati. Seperti kata orang, orang yang pikirannya kosong akan gampang kesurupan.
**
Untuk meneruskan tulisan yang tak kunjung usai itu, aku melakukan sebuah skenario dengan kekasihku, tanpa ia mengetahuinya. Hari itu, aku ingin menguji seberapa besar rasa kasihnya untukku. Aku mengajaknya ke sebuah pantai yang ombaknya cukup tenang, dan kami bisa menikmati pantai itu dari atas tebing yang tak terlalu tinggi, hanya sekitar 1-2 meter saja. Aku mengajaknya naik. Beberapa saat kemudian, aku berpura-pura mengambilkan sebuah bunga yang tumbuh di pinggir tebing itu. Ya, saat mengambil bunga itulah aku pura-pura terpleset dan jatuh ke laut. Aku berani melakukan itu, karena aku cukup pandai berenang. Selain itu, rencana ini sudah aku persiapkan. Jadi Hp, dompet, dan benda penting lainnya aku tinggalkan di atas tebing itu. Aku ingin tahu, apa yang kekasihku lakukan melihatku terjatuh.
Aku menjatuhkan diri dan pura-pura tidak bisa berenang. Aku melihat kekasihku panik, tidak ada orang yang bisa ia mintai pertolongan. Ia melepaskan sandal dan tasnya, kemudian ia nekat menceburkan diri. “byuuurrr”, ia tenggelam beberapa detik di dalam air yang agak dangkal itu, kemudian ia muncul dengan cara mengambang, tak bergerak sedikitpun. Aku panik. Segera aku menghampiri dan menggendongnya kepermukaan. Kulihat ada darah mengalir dari sela-sela rambutnya. Ia tak sadarkan diri, aku membawanya ke pos pengamanan pantai. “harus segera dilarikan ke rumah sakit” kata petugas itu.  Petugas itu menelepon mobil ambulan dan segera mengamankan lokasi kejadian.
Beberapa saat kemudian mobil ambulan berwarna putih datang. Aku menemami kekasihku menuju rumah sakit terdekat. Kulihat wajahnya begitu pucat, aku menahan darah yang keluar dari kepalanya dengan tanganku. Tangannya terasa sangat dingin, aku menggenggamnya. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung dibawa ke ruang UGD. Ia tak sadarkan diri selama 2 hari, dan baru di hari ketiga ia dipastikan telah meninggal dunia. Kata dokter ia mengalami gegar otak dan pendarahan. Jangan tanya bagaimana perasaanku.
Setelah ia dikubur, aku pergi ke makamnya dengan membawa karangan bunga. Saat itulah aku kembali teringat pada mimpi buruk yang pernah aku alami. Oleh sebab itu, aku membuat karangan bunga dan kartu ucapan sama persis dengan mimpi itu “Akulah yang paling berduka atas kepergianmu. Aku menyesalinya dan semoga kamu masih mencintaiku”. Setelah meletakkan bunga itu, aku tidak lagi pulang kerumahku, karena polisi sudah siap membawaku sebagai saksi kejadian sekaligus tersangka.
Sampai di kantor polisi, beberapa orang menanyaiku banyak hal, mulai dari yang penting dan yang tidak penting. Menurutku.
“Kenapa kamu pergi ke tempat itu?. Sudah jelas ada papan yang bertuliskan, bahwa tempat itu dilarang” tanya polisi itu.
“Aku ingin melakukan sesuatu yang indah bersama kekasihku pak. Karena aku pernah bermimpi bahwa kekasihku akan pergi” jawabku.
“Apa hubungannya dengan mimpimu?. Lalu bagaimana kalian bisa terjatuh ?, jawab dengan jujur”
“Mimpi itu tentang kekasihku pak, bapak tahu kan, bahwa mimpi itu adalah petanda. Aku sengaja melompat pak. Aku ingin tau seberapa sayang kekasihku, dan apa yang akan ia lakukan jika melihatku terjatuh”
“Lalu apa yang dilakukan kekasihmu itu?”
Kurasa polisi itu menggunakan rumus “5W+1H” saat menanyaiku. Aku melanjutkan “ia melompat karena ingin menolongku pak. Aku senang melihatnya melompat, itu tandanya ia sangat menyayangiku” aku menjawabnya sejujur mungkin, aku tidak ingin bertambah dosa karena bohong.
“Teruskan. Selanjutnya apa yang terjadi padanya?”
“Aku tidak tahu pak. Waktu dia melompat, ia masuk ke dalam air selama beberapa detik, kemudian muncul dalam keadaan tak sadarkan diri. Mungkin kepalanya terbentur batu atau karang yang ada disana”
“Berarti kamu sengaja melakukan itu?”
“Iya pak”
“Terimakasih atas kejujurannya”
“Sama-sama pak” aku tersenyum pasrah.
Setelah itu, aku langsung dimasukkan ke dalam jeruji besi. Dua orang memegangku dari kanan dan kiri. Seolah aku adalahpenjahat paling berbahaya yang membutuhkan pengamanan ketat.
Aku dianggap bersalah dalam kejadian itu. Mungkin aku terlalu jujur, bahkan saat sidang di pengadilan aku menjawab hal yang sama dengan jujur. Pengadilan memutuskan bahwa aku divonis hukuman penjara selama sembilan tahun, dengan tuduhan kasus pembunuhan terencana. Padahal kau tau kan, aku hanya ingin menguji kekasihku, bukan untuk membunuhnya.
Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi, kekasihku telah mati. Aku percaya, pasti ada hikmah dibalik semua kejadian. Hikmah yang kurasakan, aku dapat meneruskan menulis-meski dalam penjara-, dan tulisan tentang kekasihku itu akan aku buat sedikit berbeda dengan kejadian aslinya. Aku akan membuat ending yang bahagia, sampai kami menikah, punya rumah, keliling dunia, punya anak, masuk surga bersama, dan sebagainya. Dengan begitu, kekasihku tidak akan pernah mati, kekasihku akan terus hidup. Aku akan terus menulisnya hingga menjadi sebuah buku dan aku akan selalu membacanya. Nantinya, Buku itu adalah kekasihku.
***
Oya, ada hal yang aku lupakan. Kau bisa memanggilku dengan nama Soir, dan kekasihku bernama Lala, tepatnya Almarhum Lala. Tokoh lain seperti orang tuaku, pak ustad, petugas pantai, pak polisi, supir ambulan, dan juga setan yang pernah merasukiku, tak perlu aku sebutkan namanya. Karena pada dasarnya kita adalah sama, yang beda mungkin hanya setan itu.

Minggu, 26 April 2015

Harga Sebuah Kesepian



Oleh : Hudy Majnun



Suatu sore yang cerah, ia menikmati segelas teh hangat untuk menghangatkan diri, semakin hangat lagi saat ia menikmati teh di dekat tungku api dapurnya. Rasanya seperti tak punya dosa apapun, tidak ada pikiran apapun yang dapat mengganggunya. Sesekali tangannya mengembangkan dekat api, agar semakin hangat yang ia rasakan. Setelah merasa hangat, ia keluar dari dapur yang beralaskan tanah. Sengaja rumahnya tidak dilapisi semen ataupun kramik, dengan begitu ia merasa lebih dekat dengan bumi. Beberapa saat kemudian ia keluar dari rumah, menuju halaman yang dikelilingi pepohanan. Setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk duduk di kursi halaman rumahnya, menikmati setiap hembusan angin, menikmati lambaian dedaunan, bunga-bunga, dan hangatnya matahari yang kadang menyengat. Setiap kali ia merasakan ketenangan dan kenikmatan di halaman rumahnya, ia selalu berkata “Dunia yang Agung” dengan menelentangkan kedua tangannya, seolah ia baru saja terbebas dari kurungan panjang. Tak perlu mencari daerah yang tinggi/mendaki gunung untuk menikmati senja ataupun matahari terbit, karena rumahnya berada di daerah yang cukup tinggi. Rumahnya begitu sepi, hanya ia seorang diri. Tetangganya cukup jauh dari rumahnya, tetangga paling dekat berada di jarak sekitar 100 M. 


Dua anaknya ia sekolahkan di kota yang cukup jauh dari rumahnya. Sebenarnya ia tak ingin menyekolahkan anaknya, tapi karena sudah menjadi tanggungjawab dan tuntutan dari keadaan, ia terpaksa menyekolahkan anaknya hanya untuk menjalani kewajibannya sebagai orang tua. Sekarang, anak pertamanya sudah kelas 3 SMA dan anak keduanya baru kelas 4 SD. Sejak sekolah, kedua anaknya sudah tidak tinggal dengan orang tuanya, mereka tinggal dengan nenek dari ibu, karena lebih dekat dengan sekolah.


Ia memutuskan hidup sendiri ketika ditinggal istrinya. Saat anak pertamanya baru lulus SD, istrinya pergi entah kemana, meninggalkan dirinya tanpa pesan apapun. Setelah beberapa bulan kemudian istrinya memberi kabar, bahwa ia berada di negeri tetangga dan sudah bekerja disana. Itu cukup melegakan dirinya sejenak, walau ia tak terima dengan perlakuan istrinya, ia tetap sabar dan mencoba berpikir baik mengenai istrinya, hatinya masih lebih berfungsi daripada otaknya. Tapi, setelah kabar dan sabar itu terjadi, sebulan kemudian istrinya memberi kabar lagi melalui surat. Ia mengabarkan bahwa dirinya baik-baik saja dan bahagia, selain itu surat itu juga berisi tentang permintaan cerai dari istrinya, dengan alasan ia lebih bahagia seperti itu. Itu cukup membuat pria bernama Rasi ini terpukul, hancur hatinya, sedih, kehilangan, dan sebagainya. Namun, itu hanya ia rasakan beberapa hari saja. Karena ada sesuatu yang ia kerjakan, yang membuatnya menjadi lebih sabar. 


Setelah itu ia kembali tenang dan semakin tenang saat hidup sendirian, kemudian pindah rumah ke lokasi yang lebih tenang, di daerah pegunungan. Di sanalah ia menemukan ketenangan, namun ia tak pernah kesepian, karena di sekitarnya banyak hewan-hewan yang senantiasa menjadi teman. Ketika pagi, ia disambut berbagai kicau burung yang merdu, sampai sore tak pernah sepi hewan apa saja berkeliaran di pepohonan halaman rumahnya. Sengaja ia tanami halamannya dengan pohon-pohon yang menjadi kesenangan hewan-hewan. Ada pohon bringing yang berdaun lebat, pinus, dan sebagainya. Halamannya lebih luas daripada rumahnya. Ada hal aneh yang sering terjadi padanya, ketika berada di halaman rumahnya, ia kadang terdiam dalam waktu yang lama, bisa dari pagi sampai sore ia duduk di kursi bawah pohon, kadang seperti orang tidur, tapi ketika ada tetangganya memanggil ia langsung menjawab. Ketika Rasi seperti orang tidur, kadang ada hewan mendekat dan hinggap di kursi tempat ia duduk, kursi panjang yang terbuat dari kayu seadanya, tanpa sandaran. Ia selalu bersandar ke pohon kalau sedang duduk disana. Entah kenapa hewan-hewan itu tidak kabur meskipun ia bangun tiba-tiba. 


Kedua anaknya kadang datang ke tempat itu, untuk minta jatah uang jajan dan sebagainya. Ia tak pernah kekurangan, sawah yang ia tanami selalu mencukupi kebutuhan ekonomi dan biaya untuk anaknya. Suatu sore, anak pertamanya datang ketika Rasi sedang tertidur di kursi biasanya. Anaknya melihat ayahnya sedang tertidur di kusri, kemudian ia ingin membuat kejutan dengan mengagetkan ayahnya. Ia mendekat pelan-pelan, ketika ia sudah berada di belakangnya ayahnya dan siap mengagetkan, tiba-tiba ayahnya lansung menoleh dan berkata “hayooo, mau ngagetin ayah ya..?”, “ahh... ayah selalu begitu”, “duduk sini” lanjut ayahnya. 


Setelah obrolah di halaman selesai mereka masuk ke dalam rumah, ayahya sudah menyediakan masakan kesukaan anaknya, jamur... ya, itu adalah sayur kesukaannya sejak kecil, dan Rasi selalu mencarikan jamur untuk anaknya setiap pagi. “wahhh... ayah selalu mengerti kesukaanku” kata anaknya. Rasi hanya tersenyum. Dengan sangat nikmat mereka melahap makanan yang ada di meja. Semua makanan adalah masakannya Rasi sendiri, walau hanya makanan sederhana, itu adalah makanan yang paling nikmat menurutnya. Mungkin menurut mereka berdua makanan yang mereka makan adalah makanan yang lebih enak dari pada makanan di restoran. Mereka makan sambil berbicara santai. Rasi banyak menceritakan tentang keadaan halamannya yang semakin indah, tentang hewan-hewan, dan sebagainya. Sedang anaknya menceritakan berbagai macam permasalahan yang terjadi sekolah, di lingkungannya, dan di kota-kota besar, baik masalah bencana alam, penyakit, peperangan, teroris, permasalah politik dan pemerintahan, dan sebagainya. 


Ayahnya sangat tertarik dengan semua cerita yang diceritakan anaknya. Apalagi semua cerita mengandung masalah. Kadang memang hidup tidak luput dari masalah, tapi masalah tak harus menimbulkan perpecahan, apalagi kebencian antar sesama. 


“apa masalah yang paling hangat menurutmu, anakku?” tanya Rasi


“semua masalah terasa hangat yah. Soalnya selalu diulur-ulur penyelesaiannya, apalagi masalah di pemerintahan. Wahh... pokoknya akan pusing kalau memikirkannya”.


“yasudah... aku tidak mau kamu yang pusing karena menceritakannya padaku”.


Suap demi suap terus masuk ke dalam mulut mereka, melalui ternggorokan, kemudian lambung, dan perut. Namun pada akhirnya harus ada yang terbuang ke sungai ataupun toilet. Manusia seperti hanya sebuah penyaringan, yang tak terbuang akan kau gunakan untuk berbagai macam aktivitas, itu yang sering disebut energi. Mereka terus memakan makanan sambil sesekali berbicara. 


“memang apa yang menjadi penyebab utama permasalahan itu, anakku?” tanya Rasi.


Setelah menelan makanan yang dikunyahnya, anaknya menjawab. “tidak tau yah, mungkin mereka sedang bercanda dengan hal yang main-main, hahaha”. 


“kau bisa saja anakku. Mungkin hati mereka dikalahkan oleh otaknya, jadi ambisi mereka tidak tertahankan. Padahal solat mereka kadang masuk TV kan. Sudah solat kok masih begitu”. 


“maksud ayah?”


“tidak ada maksud apa-apa, hanya sekedar ngomong. Ayah kadang bingung, apa yang sebenarnya manusia cari”.


“cari masalah mungkin yah. Hehe. Kalau aku sendiri ya cari ilmu”.


“cari ilmu ya memang wajib. Dengan ilmu kamu akan menemukan apa yang kamu cari, bukan malah menyesatkan. Repot kalau melihat mereka dengan berbagai permasalahan itu. Mending kayak ayah disini, tidak ada sedikitpun masalah, dan tenang sekali, menikmati sebuah kemerdekaan.”


“kita kan punya dunia dan pilihan masing-masing yah”.


“begitulah yang ada dalam pikiran orang. Ilmu mereka yang bermasalah begitu banyak, bahkan gelar mereka begitu panjang, rata-rata sudah naik haji, namun pada akhirnya mereka terjebak banyak permasalahan dan tidak ada yang mau mengalah”.


Tidak ada inti dari pembicaraan itu. Makanan sudah habis, meja dibersihkan, dan anak Rasi berpamitan untuk pulang. Rasi kembali ke halaman rumahnya. Ia terbayang-bayang cerita yang disampaikan anaknya, bahkan cerita yang banyak mengandung masalah itu menggingatkannya pada permasalahannya sendiri. Ia teringat istrinya, namun tidak ada lagi sakit hati. Permasalahan dengan istrinya bukanlah sebuah permasalahan yang banyak dibayangkan orang. Itu hanyalah sebuah peristiwa biasa baginya, kehilangan sesosok istri bukan berarti kehilangan cintanya pada istrinya. Bahkan ia semakin mencintai istrinya yang meninggalkannya. Semakin hari ia semakin cinta kepada istrinya yang telah pergi, ia selalu menguatkan cintanya dengan prasangka-prasangka baik. “istriku kini tak berwujud, seperti Tuhanku, dan aku sangat mencintainya. Aku akan terus menanti dan mencari sebuah pertemuan dengan dirinya.” Cerita anaknya membuatnya mengingat banyak hal. Bahkan sesekali ia seolah seperti menjadi sisi lain dari masalah yang ada di pemerintahan. 


Tak salah ia memilih untuk hidup sendirian. Sendirian bukan berarti kesepian, disitu kita akan menemukan berbagai pengetahuna yang jernih untuk pikiran dan hati. Orang-orang yang selalu hidup di tengah keramaian pasti akan rindu sebuah kesepian. Entah dimana mereka akan menemukan kesepian, mungkin di kamar mandi, dalam lemari, atau bahkan di dalam kubur. Aku tidak pernah membayangkan orang sesibuk presiden, menteri, dan orang-orang pemerintahan lainnya bisa menemukan sebuah kesepian, atau ketenangan. 


Senin, 26 Januari 2015

Ketika Adam dan Hawa Masih Kecil




Oleh : Hudy Majnun


Ketika masih berusia 2,5 tahun, sewajarnya anak kecil, aku suka sekali bermain. Mulai permainan petak umpet, jual-jualan, dan satu yang hanya pernah kumainkan sekali bersama teman-temanku, yaitu nikah-nikahan. Kata “jual-jualan” dengan pengulangan kata, terus ditambahi imbuhan-an, itu mengartikan bahwa kegiatan itu hanya permainan atau pura-pura, meniru kegiatan aslinya.
Aku dan teman-teman di desaku waktu kecil sering bermain jual-jualan dan melakukan transaksi jual beli dengan menggunakan daun sebagai uang. Tapi sayangnya tidak ada transaksi online seperti saat ini. Biasanya yang diperjual belikan adalah sayur-sayuran, buah-buahan, dan sampo sachetan yang kami buat dari pelepah pisang, kemudian kami bentuk kotak-kotak menyerupai sampo asli yang bisa digantung pada tali. Untuk buah-buahan dan sayur-sayuran, kadang kami menggunakan buah dan sayur sungguhan, karena di desaku buah dan sayuran sangat melimpah. Untuk memilikinya kami tak perlu membelinya, banyak buah dan sayur yang tumbuh liar.
Ada yang jadi pembeli, penjual, perampok, masyarkat biasa, dan sebagainya. Semuanya kami atur begitu saja dengan kesepakatan bersama tanpa ada rasa iri. Semuanya terasa seperti kehidupan sesungguhnya, tapi kami lakukan dengan cara yang sederhana, dengan rasa pri-kemanusiaan yang tulus. Tak ada diskriminasi terhadap salah satu teman yang mendapatkan peran sebagai pencuri ataupun peran yang kurang penting dalam permainan. Karena tujuan kami hanyalah bersenang-senang.
Adegan yang paling ku ingat dalam permainan jual-jualan, yaitu ketika aku menjadi seorang pencuri. Setelah selesai mengambil barang curian, aku harus menjatuhkan sebuah benda hingga berbunyi keras. Biasanya aku menjatuhkan piring yang terbuat dari seng, sehingga bila dijatuhkan akan menimbulkan bunyi “klontangg!!!”, seperti itu.  Hal itu dilakukan sebagai tanda bahwa ada pencuri masuk. Agar adegan benar-benar seperti sesungguhnya, aku melakukan itu dengan cara yang baik, yaitu dengan cara pura-pura tidak sengaja menyenggolnya. Itu seperti penjiwaan peran. Kemudian semua warga/teman-teman terkejut dan berusaha mengejarku. Pada akhirnya aku harus tertangkap dan mendapatkan hukuman diikat di sebuah pohon selama beberapa menit.
Adegan seperti itu juga ditiru dari kehidupan masyarakat sekitar, karena kami anak kecil yang sering menjadi saksi sebuah peristiwa dan kami mengulanginya dalam bentuk permainan. Tapi,-dalam kehidupan nyata-tak mungkin seorang pencuri memberikan tanda saat dia sudah mengambil barang. Ini hanya permainan, maka kami membuat tanda seperti itu. Apalagi kami tidak terlalu paham dengan kecurangan atau kelicikan yang banyak dilakukan oleh orang dewasa.
Dalam permainan itu, salah satu dari kami bertindak sebagai layaknya sutradara. Dan aku pernah menjadi sutradara itu. Jadi, aku mengatur teman-temanku untuk menjadi ini dan itu. Sebagai seorang sutradara/pemimpin, aku juga terlibat dalam permainan, namun aku mengambil peran yang sangat mudah dan tidak beresiko. Di akhir permainan, tidak pernah ada kesimpulan dari apa yang kami lakukan. Setelah adegan selesai atau permainan berakhir, semua pulang kerumah masing-masing. Bahkan ada yang harus pulang dengan menangis, karena orang tuanya marah, akibat bermain terlalu lama.
Mungkin permainan seperti ini terlihat keren jika menjadi sebuah film yang dapat ditonton banyak orang. Tapi, sebuah film tak mungkin dapat direncanakan hanya oleh salah satu orang. Permainan anak kecil memang terlihat lucu, tapi itu sebuah karya dari kejujuran dan kepolosan mereka. Kepolosanku juga, dulu.
***
Permainan jual-jualan dan aksi percurian mungkin seperti peristiwa sosial pada umumnya, dan adegan itu sering muncul dalam sebuah film. Selain itu, permainan yang sering aku lakukan bersama teman-teman kecilku dulu adalah permaian Nikah-nikahan. Dalam permainan ini, aku pernah mendapatkan peran menjadi pengantin laki-laki. Aku disandingkan dengan anak perempuan tetanggaku yang dulu sangat cantik-tapi sekarang sudah bersuami. Istiana namanya, dan kami akrab memanggila Iis.  
Aku dan Iis pernah menjalani sebuah ritual-kalau di kehidupan orang dewasa itu ritual yang sangat sakral. Kami berdua menggunakan baju pengantin yang terbuat dari sarung dan aku mengenkannya setengah badan, dengan gulungan di dada. Begitu juga dengan pengantin perempuan. Ketika masih kecil, seorang perempuan memang wajar-wajar saja telanjang bersama dengan anak laki-laki lain, tapi sangat aneh jika itu dilakukan oleh orang dewasa, apalagi ditempat umum.
Kami berdua duduk di sebuah batu, dekat sungai. Teman-teman yang lain mengumpulkan berbagai macam bunga. Kami menunggu sambil menduga-duga apakah yang akan terjadi, aku sedikit merasa deg-deg-an berada dekat Iis. Kami sama sekali tak berbicara apapun saat menunggu. Sampai beberapa saat kemudian teman-teman yang lain datang dengan membawa berbagai macam bunga di tangan.
Bunga-bunga sudah didapatkan, kemudian dikumpulkan menjadi satu dalam sebuah bak kecil dan dicampur dengan air yang diambil dari sungai. Mereka menyirami kami berdua dengan bunga itu, istilahnya mandi kembang. Air yang bercampur bunga terasa mulai menjalari tubuh, dari ujung kepala melewati mata, hidung, mulut, dan terus sampai ke sela-sela pahaku. Sesekali serpihan bunga hinggap di bibiku, aku mengigitnya, kemudian menyemburkan pada teman yang berada di depanku.
Setelah ritual selesai, aku dan Iis dinyatakan sah menjadi suami-istri. Ritual mandi bunga/kembang selesai, maka permainan juga dianggap berakhir. Dan aku tidak pernah berpikir bahwa permainan akan berlanjut sampai adegan malam pertama. Tapi ternyata teman-teman yang lain sudah menyediakan tempat, agar aku bisa berdua dengan Iis. Permainan terus berlanjut.
 Tempat itu cukup tertutup, seperti sebuah kotak berukuran 1x2m yang tertutup dengan kain berwarna putih. Kami berdua disuruh masuk ke dalam kotak. Teman-teman memperingatkanku agar tidak berbuat aneh-aneh. Iis menurut saja apa mau teman-teman. Ia memang lugu. Kami masuk dan hanya terdiam. Ia menunduk sepanjang di dalam kotak. “ayo, gerak-gerakkan kainnya biar terlihat seperti pengantin malam pertama” kata teman-teman yang berdiri di luar kotak. Aku pun menggerak-gerakkan kain itu, dan teman-temanku bersorak “yeee”. Setelah itu selesai, mereka menyuruh kami keluar.
Aku dan Iis masih mengenakan sarung setengah badan yang basah akibat siraman tadi. Aku melihat Iis seperti kedinginan karena sarungnya yang ia kenakan basah. Pikiranku kemana-mana melihat wajahnya yang cantik, dengan rambut panjang yang terurai basah. Tangannya masih setia menempal pada pahanya dengan telapak di bawah, begitu juga dengan tanganku. Sesekali tanganku bergerak seperti orang sedang memaikan piano dengan mahir. Beberapa saat kemudian, entah apa yang melintas di pikiranku. Tiba-tiba aku tergerak mendekati wajahnya. Seperti ada sebuah dorongan dari belakang yang membuatku mencium pipi Iis. Astaga, rasanya seperti mencium kain sutra yang begitu halus. Ketidaksengajaan yang berlangsung satu detik itu tak membuat Iis mengubah posisinya, ia tetap terdiam.
Setelah itu, aku keluar lebih dulu, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kotak mereka bongkar, kain diturunkan. Aku sangat terkejut setelah kain diturunkan oleh teman-temanku. Iis tiba-tiba menangis dengan keras, seperti orang yang kehilangan barang berharganya. Keempat temanku mencoba menenangkannya dengan mengiming-imingi setangkai mawar sisa, tapi sia-sia.
Beberapa saat kemudian ibunya datang, “Iis kenapa ?, kalian apakan Iis?” tanya ibu Iis dengan nada meninggi. Semua temanku terdiam, tidak ada yang berani menjawab pertanyaannya, termasuk aku. Iis digendong ibunya. Tangis pun mulai mereda, dan ia kembali terdiam dalam dekapan hangat ibunya.
Teman-teman menatapku dengan perasaan curiga, seolah-olah akulah yang bersalah. Telah menyebabkan pengantin perempuan menangis.
“Kau apakan Iis, Ir ?” tanya salah seoran temanku.
“Tidak ada” jawabku.
Alaah... mana ada maling ngaku” ucapnya. “kamu sudah melanggar aturan” imbuhnya. Aku diam.
Beberapa saat kemudian teman-temanku mulai beranjak pergi. Iis pergi, dan teman-temanku juga pergi. Dengan wajah kusam, seolah mereka benci padaku. Teman-teman menganggapku telah menyalahi aturan yang sudah mereka buat. Aku tidak mungkin menjelaskan bahwa ada sesuatu yang mengdorong dari belakang, hingga mukaku mengenai pipi Iis. Rasanya itu penjelasan konyol.
Baru saja masa indah aku lalui, tapi sebentar kemudian berubah malapetaka. Aku merasa seperti dibuang dari surga. Hanya gara-gara sebuah kesalahan kecil aku tercampakkan. Sedih. Aku tak bisa menahan tangis. Aku merenung seraya mengusap air mata di bawah pohon dekat batu pelaminan. Tersedu-sedu. Sesekali aku mendengar kicauan burung di atasku, mereka seperti sedang menertawakanku.
Aku tidak tau apa itu sebuah larangan, peraturan, dan sebuah dosa. Aku hanya seorang anak kecil berusia 2,5 tahun. Aku tidak tau, kenapa aku dianggap bersalah hanya karena mencium pipinya di dalam surga kotak kecil. Kemudian mereka mencampakkanku seperti pendosa besar. Padahal, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh adalah hal yang wajar bagi anak kecil. Bagaimana mungkin aku menerima hukuman ini, hanya gara-gara mencium pipi Iis. Aku harus menerima dosa, bahkan menurunkan dosa-dosa itu pada keturunanku nanti. Rasanya, permainan ini tidak adil untukku, mereka tak pernah ingin mengerti dengan kesalahanku yang sederhana.
 Teman-teman tak pernah mengerti. Mereka hanya menganggap akulah yang bersalah, tapi tak pernah bertanya mengapa atau kenapa. Berikut juga orang tuaku. Mereka hanya menasehatiku, tanpa pernah memikirkan penjelasanku, bahwa mencium pipi perempuan kecil adalah hal yang wajar.
Jika Adam dan Hawa harus dibuang dari Surga Tuhan karena memakan buah terlarang. Maka aku harus terbuang dari surga kotak hanya karena mencium pipi Iis. Aku tidak tau bagaimana Adam dan Hawa melakukan kesalahan itu, mungkin mereka juga sama sepertiku. Mungkin mereka juga anak kecil, menganggap semua yang dilakukan adalah wajar. Apalagi hanya memakan buah terlarang, daun pun bisa saja dimakan oleh anak kecil, karena ia tidak tau apa itu larangan atau peraturan.
Tapi, untungnya aku mempunyai ayah dan ibu, yang memberitahu apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak boleh. Tapi, Adam dan Hawa, apakah mereka punya orang tua sepertiku ?!. Atau mungkin mereka diciptakan Tuhan langsung menjadi manusia dewasa. Meskipun, ada teori mengatakan, bahwa manusia adalah evolusi dari kera/monyet. Apa dulunya Adam dan Hawa adalah monyet ?... Sudahlah..! Apapun dan bagaimanapun mereka, banyak yang percaya bahwa kita adalah keturunannya.
***
Cukup lama aku manangis di bawah pohon dekat surga batu pelaminan, sendirian, hingga tenggorakanku terasa kering. Kemudian ibuku datang, ia menggendongku dan membawaku pulang. Di perjalanan aku masih tersedu-sedu menangis, ibu membuka kancing bajunya, menyodorkan puting susunya yang hitam padaku. Aku diam sambil menghisapnya. Ibu sepertinya sudah tau dengan apa yang terjadi, jadi ia tak mengatakan banyak hal padaku. Ia hanya berkata, “jangan pernah bermain seperti itu lagi, kau masih kecil”.
 Nasehat ibu aku turuti. Setelah kejadian itu, aku tidak lagi bermain permainan seperti itu. Bahkan sampai sekarang, ketika mulai dewasa, aku masih sangat takut untuk mencoba permainan seperti itu lagi. Kurasa, dunia sudah tak seindah surga masa kecil, jadi aku tidak mau melanggar apa yang dikatakan ibu.
Aku tidak mau terbuang pada kehidupan yang lebih kejam dari ini. Apalagi ketika SD aku sering disuguhi buku-buku siksa neraka, yang dijual oleh pedangan keliling. Mereka biasanya selalu ada di pinggir jalan ketika jam istirahat sekolah. Katanya, orang-orang yang masuk neraka adalah orang-orang yang melanggar peraturan, dan mereka berdosa. Mungkin, aku akan masuk neraka karena telah melanggar peraturan yang dibuat teman-temanku, dan aku tidak bisa menikmati surga kotak itu lagi. []